Cerita tentang Seorang Pengamen Kecil

Malam itu kami bertiga berencana pergi ke Book Fair di Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin. Setelah puas melihat-lihat akhirnya kami pulang tanpa membawa satu buku pun karena tidak ada buku yang menarik hati. Kami fikir, daripada kami pulang dengan tangan hampa, lebih baik kami mencari makan saja. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Siring Sungai Martapura. Disinilah kami bertemu dengan pengamen kecil ini.

Mengamen seorang diri dengan Jilbab minimalis terpasang dikepalanya. Mendekati kami sambil memainkan alat musik yang terbuat dari botol bekas minuman yang kosong. Sebelum ia menyanyikan lagunya, Syakir dengan sigap menyuruhnya duduk  sambil langsung melontarkan pertanyaan kepadanya. sikap temanku yang satu  ini memang seperti itu jika bertemu hal-hal yang demikian, rasa ingin tau dan keinginan eksplorasinya sungguh besar.

"kami tidak suka mendengar ade menyanyi, kami lebih suka mendengar ade mengaji" begitu kata syakir, sambil langsung kami iyakan untuk menguatkan dan membuat pengamen itu duduk bersama kami. Dan ternyata benar saja, gadis kecil itu duduk serta mau berbincang dan bercanda seolah sudah akrab sebelumnya.

Syakir bertanya tentang surah Alfatihah. Pengamen itupun membaca surah Alfatihah dengan lancar, meski terdapat beberapa kalimat yang keliru dalam pengucapannya. Aku yang membawa mushaf Alquran, mengeluarkannnya dari ransel dan menunjukkan kepada pengamen itu bagaimana cara membaca surah Alfatihah yang lebih tepat. Setelah lama kami berbicara kepadanya, pengamen kecil itu akhirnya bercerita tentang kehidupan ia sehari-hari. ternyata ia sudah duduk di kelas 4 SD, dan ia masih memiliki kedua orang tua. jadi, mengamen bukanlah untuk menyambung hidup, melainkan sebagai profesi dan seolah menjadi rutinitas yang tidak bisa ditinggalkan.

Kami penasaran berapa sebenarnya penghasilan yang ia dapatkan dari mengamen. kami pun membujuknya untuk menghitung bersama uang yang ia dapat. Setelah lama kami bujuk, akhirnya pengamen itu mau mengeluarkan seluruh hasil mengamennya malam ini. Mulai dari uang ribuan, sampai uang puluhan ribu ia keluarkan dari kantong bajunya yang kecil itu. Ternyata cukup mengejutkan, uang yang telah ia kumpulkan mencapai Rp. 65 ribu. Namun ekspresinya tampak kecewa dan terlontar kata-kata yang lebih mengejutkan lagi. "Baru 65 ribu, biasanya 200 ribu tiap malam". sontak kami terperangah mendengar perkataannya. Bagaimana tidak, uang 200 Ribu dikumpulkan hanya 1 malam saja. Kami bertanya keheranan, ia menjawab, uang 200 Ribu itu adalah hal yang biasa ia dapatkan, bahkan kadang bisa lebih banyak lagi. Subhanallah... ternyata ini penyebabnya mengapa daerah siring ini begitu banyak pengamen yang menjajakan jasanya. penghasilan yang mereka dapatkan, sudah lebih dari cukup bahkan bisa dikatakan sangat banyak.



Tidak terasa sudah lebih dari setengah jam, aku, syakir dan fauzan "mewawancarai" pengamen ini. Syakir mengeluarkan uang Rp.5000 dan ia masukkan ke dalam botol kosong yang pengamen kecil itu gunakan sebagai alat musik. Kami meminta doa sebagai balasan dari uang yang Syakir berikan, kami pun juga mendoakan pengamen itu supaya ia akan ingat dengan kami jika suatu saat kami bertemu lagi. Sebelum berpisah. pengamen itu mengatakan prinsip hidupnya yang selalu ia pegang. Dia berkata "Ulun mengamen, tapi ulun kada handak meminta-minta" atau dalam bahasa lain "Saya adalah pengamen, dan saya tidak ingin menjadi pengemis". Luar biasa!! Bahkan seorang pengamen kecil pun memiliki prinsip yang selalu dia jaga didalam hatinya.

***


Menurut anda, bagaimanakah sebaiknya perlakuan dan sikap kita ketika menghadapi pengamen yang seperti ini? Lalu, perasaan seperti apakah yang muncul ketika ada seorang pengamen yang menyanyi ditengah-tengah nikmatnya waktu makan anda?
Semuanya kembali pada diri kita masing-masing. Saya menulis cerita ini hanya sebagai bahan untuk memperluas wawasan kita dan memandang sesuatu dengan perspektif yang lebih luas. Akhirnya, sekian dulu tulisan saya pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat... Aamiin....

Komentar